Tetap bertahanlah…

Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

(Al Insyira)

Beberapa hari yang lalu saya membaca di sebuah cerita menarik tentang seekor kedelai yang terperosok kedalam sumur tua yang sudah kering disebuah padang pasir. Untungnya serombongan Kafilah yang tidak sengaja melewati sumur itu mendengar suara kedelai yang ketakutan di dalam lubang.

Kasihan dan cemas terlihat di wajah mereka karena sumur itu cukup dalam dan mereka tidak memiliki tali yang panjang untuk menolongnya. Walaupun semua tali yang mereka punyai disambungkan tetap mustahil dan tidak akan kuat mengangkat keledai itu.

Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan agar keledai itu dibunuh saja karena kalau ditinggal begitu saja dia akan mengalami penderitaan panjang dan akhirnya mati kelaparan juga. "Mempercepat kematiannya adalah lebih baik" kata ketua kafilah. Serentak sesuai komando sang Ketua, anggota Kafilah melemparkan batu dan pasir kedalam sumur agar si keledai segera mati terkena batu dan terkubur pasir.

Lemparan batu yang pertama membuat si keledai berteriak-teriak kesakitan, demikian pula batu kedua, ketiga dan seterusnya. Kepanikan makin dirasakan ketika pasir pun mulai digrojokkan keatas tubuhnya. Dalam kepanikan dan ketakutan si keledai melompat kesana-sini menghindari batu-batu itu. Air mata mengalir, tubuh kesakitan, kulit kecet dan dan darah mulai menetes, namun secara naluriah sang keledai terus saja berusaha melompat kian kemari menghindari lemparan batu-batu itu dan urugan pasir. Semakin lama sang keledai bukannya mati tapi malah semakin liar gerakkannya dan tanpa disadari ternyata dasar sumur itu makin lama makin dangkal. Akhirnya hal itu disadari para kafilah bahwa apa yang mereka lakukan justru bisa menolong si Keledai. Ketika dasar sumur semakin pendek, Hap…si keledai akhirnya malah bisa melompat keluar dari sumur tanpa dibantu oleh siapapun.

Sesungguhnya cerita diatas mengajarkan kita untuk senantiasa berikhtiar dan bersabar atas apa yang kita terima dalam hidup kita. Mungkin saja dalam melewatinya kita merasa sedih, menderita, sakit dan pahit. Namun itu semua harus dihadapi dengan kesabaran. Ingatlah janji Allah SWT bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan (Al Insyira). Hal ini sudah terbukti nyata dalam hidup saya. Pada tahun 2000 saya dihadapkan pada kenyataan pahit dengan meninggalnya Ayah tercinta. Bagi kami selain ayah merupakan tulang punggung keluarga, beliau adalah panutan dan pembimbing kami sehingga kami sekeluarga tergantung kepadanya.

Saya sempat down karena kepergian Ayah tepat sehari setelah Ayah mengantarkan saya wisuda. Saat itu dunia terasa terbalik, saya tidak percaya dan tidak siap menerima kenyataan pahit itu. Namun, disaat bersamaan saya melihat Adik saya menunggu dukungan saya. Saya pikir jika saya terpuruk maka saya telah menambah sedih dan beban keluarga saya lainnya. Seharusnya sayalah yang berperan dan segera maju kedepan disaat tiang keluarga mulai oleng dan segera mengambil sebagian beban Ibu untuk turut berjuang mewujudkan mimpi terakhir Ayah yaitu menyekolahkan Adik sampai selesai. Nasihat beliu yang selalu saya ingat bahwa hidup ini bukan untuk ditangisi tapi untuk diperjuangkan. Selalu bersyukur dan bersabar adalah kunci dari kehidupan ini.

Alhamdulillah setelah berjuang beberapa bulan saya mendapat pekerjaan di

Jakarta

sebagai staff administrasi disebuah pabrik Garment. Dengan gaji tidak seberapa saya harus membaginya untuk hidup saya di

Jakarta

(makan dan transportasi) dan juga biaya sekolah Adik saya, sedangkan Ibu mencoba mengelola warung kecil dan mengurus kebun peninggalan Ayah. Bagi kami sekeluarga, saat itulah masa prihatin kami. Namun Allah SWT maha Pengasih dan Penyayang, dengan dana terbatas saya masih bisa membeli buku yang bermanfaat sehingga saya tertarik dalam bidang jurnalistik. Tiga tahun setelahnya, untuk mengenang kepergian dan jasa-jasa Ayah, saya membuat tulisan singkat yang tidak sengaja dibaca oleh sahabat saya yang bekerja di sebuah majalah Islam. Saya mendapat tawaran untuk memuat tulisan itu ke dalam majalahnya. Alhamdulillah berkat tulisan itulah saya terpacu untuk terus menulis dan akhirnya mendapat kepercayaan untuk menjadi kontributor di salah satu media perusahaan

Semoga anda yang saat ini sedang mendapat giliran memasuki episode perjalanan yang anda rasakan sempit, sulit dan terjal, bahkan barangkali serasa sedang terperosok kedalam sumur seperti cerita keledai diatas. Jangan pasrahkan diri kita kepada nasib, tapi pasrahkan kepada Allah SWT dan tetaplah bergerak

Cacian, makian, kesediahan, hinaan, dan kenyataan pahit lainnya adalah batu-batu dan pasir yang menimpa anda. Saat ini barangkali anda menangis, menjerit, keringat mengucur atau bahkan darah mengalir tetaplah bertahan karena suatu hari nanti pasti semuanya akan usai. Teruslah berjalan meskipun gelap karena setelah itu muncul fajar dan kegelapan anda akan sirna..

Have a nice day

[dv0108]

2 thoughts on “Tetap bertahanlah…

  1. iya yaa devilito… … what a wonderfull….. tapi aku yakin kamu banyak potensi terpendam yang belum digali… jurnalistik itu contohnya. dulu berawal dari Mading sekolah ya kamu sering jadi kontributor tulisan yang baik, syukur kalo dah banyak dikembangkan sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s