Rejeki dan Masa Ketibaan


Kita mungkin pernah mengalami kejadian ini, kita menunggu tukang makanan keliling yang melintasi di depan rumah kita dengan sejumlah uang di tangan untuk membayar makanan yang akan kita beli. Tapi entah mengapa ternyata pedagang yang kita tunggu justru melintas ke jalan lain atau bahkan tidak berdagang pada hari itu. Kejadian tersebut menggambarkan bahwa rejeki ada masa ketibaan, walau uang telah kita siapkan untuk tukang makanan tersebut namun takdir belum berkehendak uang tersebut menjadi rejeki baginya. Begitulah rejeki, dia akan datang ketika waktunya telah tiba dan menghindar jika dia memang belum ditakdirkan untuk kita.



Karena itulah rejeki tidak akan kemana-mana dan tiap orang akan mendapat kebagiannya. Semua pasti mendapat jatah, tapi soal kadar, jumlah, dan waktu ketibaan, Allah yang menentukan sepenuhnya. Itulah yang menjadi misteri bagi manusia, secerdas apapun kita menganalisa dan mengira, tidak ada diantara kita yang tahu seberapa besar rejeki yang akan kita terima hari ini. Walau kita seorang pegawai yang akan mendapat gaji terjadwal tetapi sesungguhnya gaji tersebut bisa saja bukan menjadi rejeki kita. Mungkin terpakai untuk membantu rekan lain yang sedang kesulitan atau bisa saja dipakai untuk membayar utang. Ini, sekali lagi, tentang kepastian dalam balutan ketidakpastian.




Kepastian itu melekat pada unsur kuasa penciptaan. Allah Yang Menciptakan, dan Dia yang menjamin rejeki itu. Adapun ketidakpastian itu ada pada jatah pembagiannya. Karena kita tidak tahu berapa jumlah pastinya, kapan tiba saatnya, kapan batas waktunya. Itu terkait erat dengan ketetapan Allah untuk melapangkan dan menyempitkan, melebihkan atau mengurangkan. Jatah rejeki akan berakhir sesuai jatah umur kita.




Kepastian rejeki ada di wilayah keyakinan, berupa penghambaan total bahwa tidak ada pemberi rejeki kecuali Allah. Sedang berapa yang kita harapkan dan seperti apa yang kita mengusahakan, ada di wilayah kemungkinan. Maka ketika kita keluar rumah, melangkah untuk mengejar rejeki itu lewat kerja dan usaha yang beragam, sesuangguhnya kita sedang melangkah untuk menjemput sesuatu yang pasti ada dan pasti datang, tapi belum pasti seberapa rejeki itu dan kapan kita bisa menemuinya.



Jika ketibaan adalah misteri, maka yang bisa kita pastikan adalah ikhtiar untuk mengejarnya. Kita tidak bisa menunggu rejeki jatuh dari langit secara tiba-tiba. Tak ada akibat tanpa sebab. Allah sangat tidak suka dengan orang yang ingin rejeki tetapi tidak mau berusaha. Bahkan, keengganan berusaha adalah salah satu bentuk kesombongan dan ketiadaan syukur. Kita hanya bisa mengharap Dia menyegerakan rejeki-Nya kepada kita, tentu sebesar kesungguhan kita bekerja dalam ketulusan dan kejujuran, seperti para penjaja keliling yang setiap hari menempuh jalan yang jauh. [dns]



Sumber: tarbawi edisi 259 th.13

gambar diambil dari: antarafoto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s