Investasi Sebuah Perjalanan Hidup

tabungan2  Sebenarnya ini tulisan “obrolan” ku dengan seorang sahabat dekat namanya Ugha tentang   cara berinvestasi. Saat itu aku baru shock berat dapat bbm dari Ugha, gajinya tiap bulan habis tidak bersisa bahkan masih harus membayar cicilan kartu kredit padahal menurutku gajinya Ugha itu tidaklah sedikit. Akhirnya aku tulis saja pengalaman hidupku mengenai cara berinvestasi ala devi, maksudnya mau ngajak Ugha kembali ke jalan yang benar *gayanya, mumpung masih muda dan belum banyak kewajiban.

Tapi setelah aku baca ulang curhatan ku ini aku kepikiran untuk share ke yang lain harapanku  semoga aja ini bisa berguna atau memberikan inspirasi *jiaaah gaya bgt yak. Ini tulisannya yaa…

Dear Ugha,

Nyambungin BBM aku tadi malam tentang investasi, aku siy pengen sharing tanpa maksud menggurui apalagi mencari keuntungan karena aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan broker atau menejer investasi manapun. So ini karena aku peduli pada calon keponakanku aja (huuu ngarep.com ya Gha).

Oh iya satu lagi, aku sharing pengalaman pribadi loh ya. jadi kalo aku belum jalankan atau aku sendiri belum paham banget aku gak bakalan cerita. Contohnya investasi di emas, sampai saat ini aku belum mulai (walau udah berangan-angan). So invest emas tidak aku ceritakan. Malah aku sangat berterima kasih kalo Ugha mau sharing. Ok Ugha ini dia pengalamanku :

  1. Power of Kepepet. Aku mulai melek utk investasi saat aku merasakan kesulitan setelah Bapak meninggal. Waktu itu 11 tahun yang lalu, aku baru lulus kuliah dan jobless, punya adik yang membutuhkan biaya untuk melanjutkan kuliah dan aku tidak tahu harus cari kemana untuk biaya hidup kami selanjutnya. Alhamdulillah aku dapat kerja di Jakarta jadi masalah keuangan dapat ditangani. Tapi sejak saat itu aku mulai berpikir untuk berjaga-jaga saat kemungkinan terburuk tiba, yang paling pertama dan termudah aku pikirkan adalah mengikuti asuransi jiwa dan aku setting ahli warisnya mamah dan adikku. Aku juga ikut 2 program unit link di Bumiputra dengan cicilan sekitar Rp 100.000 per bulan selama sepuluh tahun (alamak lama nian) dan uang pertanggunan yang aku dapat sekitar 25 jutaan. Saat itu aku memang mampunya menyisihkan segitu dan rasanya banyak sekali yang akan aku dapat, aku tidak berpikir nilai uang cenderung turun.  Intinya saat mulai investasi, tentukan tujuan dan niat dulu. Mungkin bisa kayak aku yang kepepet makanya lebih afdol. Waktu itu aku dikondisikan pendapatanku gak banyak tapi disaat bersamaan aku harus memikirkan nasib ade dan ibuku saat aku tidak mampu bekerja lagi, makanya maksain banget nyisihkan uang untuk nabung. Nah Ugha sekarang pendapatan tiap bulannya berkali lipat dari aku dulu jadi sudah gak ada alasan lagi untuk menunda-nunda investasi. Ingat loh, makin muda kita berinvestasi maka saat tua makin besar manfaat yang bisa kita rasakan.
  2. Disiplin. Kantorku yang sekarang Alhamdulillah posisinya dekat bank Mandiri jadi aku bisa explore fasilitas apa saja yang dimiliki Mandiri. Salah satu yang sangat membantu adalah debet automatis ke rekening mana pun yang aku mau. Bagiku fasilitas auto debet sangat berjasa karena aku tipe orang yang pelupa dan kurang disiplin. Kalo tidak disetting atau dengan kata lain aku harus manual transfer sama saja nyuruh aku ikut psikotest, pasti gak akan lulus (pengalaman pribadi hehe).  Sebenarnya dengan menggunakan fasilitas bank kita dipaksa suka tidak suka berdisiplin untuk menabung. Jadi dengan auto debet ataupun tidak asal kita berdisiplin yang sedikit lama-lama akan menjadi gunung. Mau bukti? Aku sangat berterima kasih pada auto debet bank Mandiri karena sudah 8 tahun ini aku gunakan dan salah satunya berhasil menyelesaikan project pribadiku. Tahun 2004 aku berniat ingin membahagiakan mamahku dengan memberangkatkan mamahku ke tanah suci. Aku minta mamah buka tabungan haji di Bank Syariah Mandiri dekat rumah dan aku setting setiap bulan secara otomatis transfer sejumlah uang dari tabunganku ke tabungan mamahku. Aku mulai sisihkan dari seratus ribu per bulan, semakin besar penghasilanku aku tingkatkan tabunganku dan alhamdulillah 2011 mamah berangkat haji. Allahu akbar!! grand-mosque-mecca
  3. Investasi utamakan. Ini dia yang sering salah kaprah, nabung dikeluarkan setelah bayar dan belanja ini itu. Nabung dari sisa uang kita, yang sering terjadi malah gak pernah tersisa (bener kan Gha?). Menurutku investasi adalah tahap kedua yang harus disisihkan setelah membayar kewajiban atau utang. Misalnya gaji kita 10 juta dan kewajiban kita 3 juta maka sisihkan sekitar 2 juta untuk di investasikan. Nah sisanya untuk biaya hidup dan seneng-seneng. Dengan system auto debet sebenarnya sangat membantu, tidak terasa dan gak perlu transfer sana-sini uang kita tiba-tiba berkurang. Tersisa ya hanya untuk kehidupan kita sebulan. Selama ini aku tidak merubah gaya hidup walau gajiku naik berlipat (gajiku naik berlipat saat nikah karena penghasilanku dan suami digabungkan hehe), ketika aku naik gaji maka aku akan setting ulang transfer tabunganku dan tingkatkan sedekah. Kalo kata Ahmad Ghozali, ikuti gaya “kurangi penghasilan” jadi kurangi penghasilan yang dibawa pulang karena dititip ke bank, asuransi, emas, reksadana dan lain-lain.
  4. Pisahkan rekening Tabungan dan keperluan pribadi. Selain aku tipe pelupa dan kurang disiplin, aku juga tipe orang yang tidak bisa mengeliat uang dalam jumlah besar, pasti gatal banget buat dibelanjain. Karena itu aku tidak bisa mengelola uang di satu rekening, misalnya digabung untuk keperluan pribadi maupun tabungan. Waduh bisa-bisa tiap bulan saldonya nol berapa pun gaji yang kita terima. Karena itu tiap tanggal 26 aku setting auto debet ke beberapa rekening, yang pasti seluruh kewajiban harus ditunaikan dulu. Bayar utang rumah, mobil, telp, listrik, zakat dan tabungan haji masuk ke kewajiban. Setelah itu, aku setting setiap tanggal 28, beli reksadana pakai fasilitas bank Mandiri yaitu instalment plan Mandiri dan bayar unit link prudential yang otomatis potong di rekeningku. Pokoknya aku ikut yang serba otomatis, gak mau ribert hehe. Sisanya aku setting transfer ke rekening tabungan bersama di BSM tapi atas nama suamiku. Jadi kalo mau ambil uang harus permisi dulu ama yang punya rekening. Alhamdulillah lebih awet dibanding aku simpan direkeningku tuh hehe…
  5. true-happines-is-giving-it-awayIringi dengan zakat, sedekah dan infak. Sebenarnya untuk urusan ini aku yakin Ugha sering denger tentang power of sedekah, coba aja ikuti pengajian Ustadz Yusuf Mansyur isinya pasti berkaitan dengan keajaiban bersedekah. Namun aku mau sharing pengalamanku niy Gha (bukan kata orang). Dulu saat aku dan adikku sudah sama-sama bekerja, kami selalu sisihkan uang untuk membantu sepupuku yang kurang mampu. Sebenarnya uang yg kami berikan tidak banyak, tiap bulan kami transfer seratus ribu untuk biaya sekolah. Makin besar penghasilan kami makin banyak orang yang kita Bantu. Alhamdulillah yang kami rasakan, rejeki yang kami dapat lancar dan rasanya makin berkah. Sebenarnya yang paling penting saat bersedekah itu adalah rasa bahagia karena sudah bisa membantu, apalagi saat kita tahu orang yang kita Bantu bisa berhasil dalam hidupnya. Menurutku inilah investasi yang sebenarnya, investasi yang manfaatnya akan kita rasakan bukan hanya di dunia tapi diakhirat juga. Btw menurutku bersedekah bukan hanya memberi pada orang yang kurang mampu, membahagiakan orang tua dengan memenuhi apa yang diinginkannya juga termasuk bersedekah. Setahuku bersedekah memang harus mulai dari lingkungan terdekat kita. Ayuuk semangat !
  6. Mulai dengan Project Pribadi. Berdasarkan pengalamanku investasi harus dimulai dengan niat yang teguh dan tujuan yang jelas. Kalo hanya mengumpulkan uang tanpa tujuan biasanya kita cenderung mengumpulkannya seadanya, tanpa semangat dan passion (jiah gaya banget bahasaku hehe). Karena itu untuk langkah awal, mulailah dengan project mulia misalnya membahagiakan orang tua. Jika orang tua kita sudah menunaikan ibadah haji kita bisa dengan target memberangkatkan umrah, membelikan barang yang sangat diinginkan orang tua kita, membangun atau memperbaiki rumah atau apa pun yang intinya membuat bahagia orang tua kita. Walau pun orang tua kita mampu secara financial tapi jika dari hasil jerih payah anaknya pasti lebih bermakna. Selain itu, insyaAllah niat suci kita akan diberi kemudahan. Pengalamanku banget, saat aku jalani project nabung haji buat mamah hampir tiap tahun aku dapat kenaikan gaji dan bonus, rasanya mudah sekali Allah memberi rejeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
  7. Diversifikasi Investasi. Investasi sebenarnya banyak cara dan ragamnya, bisa property, emas, reksadana, saham, tabungan dll. Dari macam-macam cara ini yang pasti jangan simpan uang kita di satu tempat maksudnya jangan hanya investasi di emas saja tapi simpan di reksadana atau lainnya. Secara logika siy emang masuk akal, jadi kalo terjadi di salah satu investasi kita misalnya harga emas turun dratis maka kita masih punya backup di investasi lainnya. Kalo pengalamanku, aku berinvestasi berdasarkan tujuan dan jangka waktunya. Misalnya aku beli reksadana untuk tabungan di hari tua/pensiun (investasi jangka panjang), untuk berangkat haji (investasi jangka menengah) aku nabung di tabungan khusus yang tidak bisa diambil uangnya (BSM ada fasilitasnya), sekarang aku sedang mempertimbangkan membeli emas secara periodic untuk tabungan haji, namun karena belinya ribert (tidak bisa auto debet) makanya masih belum mulai. Sedangkan untuk membeli barang impian (investasi jangka pendek) aku nabung di koperasi kantor karena lebih simple ngambilnya.investasi2
  8. Investasi = Bisnis. Berbisnis sebagai salah satu bagian dari investasi, mudah diucapkan namun sulit dikerjakan. Nah ini dia tantangan terbesarku saat ini, aku belum berani mengambil resiko yang terlalu extrim untuk kehilangan uang karena gagal berbisnis. Namun jika melihat teman yang berhasil dan mendengar apa yang dilakukannya, aku suka gemes sendiri karena aku pun bisa melakukannya. Sekarang aku sedang mempertimbangkan mulai berbisnis dari apa yang aku sukai dan kecil-kecilan aja dulu. Hobiku kan selain nulis adalah bikin kue, jadi aku kepikiran mau nge-bakul aja yaitu jualan kue secara online. Tapi yang sudah jalan malah jualan yang lain, udah 3 bulan ini aku dan adeku mulai jualan flashdisk dan kaos klub bola, omzetnya gak banyak tapi ini membuat aku belajar banyak hal tentang bisnis. Ayok Gha kalo mau gabung, kita belajar bareng. Yukk mareee…
  9. Pasangan Sekufu. Ini juga yang menurutku gak kalah penting dalam berinvestasi, carilah pasangan yang sekufu dengan kita. Secara mudahnya sekufu itu pasangan yang serasi, seiringan dan mendukung kita. Tapi bukan berarti sifat kita dan pasangan harus sama persis loh. Contoh kasusnya ini niy, saat aku dan suamiku sama-sama dapat kenaikan gaji atau bonus maka yang dipikirkan pertama kali kalo aku berapa banyak uang yang aku tabungkan atau aku investasikan. Tapi kalo suamiku malah berpikir barang apa yang akan dibeli, makan dimana, jalan-jalan kemana. Mungkin selintas terlihat tidak serasi atau gak akur, namun aku malah bersyukur punya suami yang sifatnya beda denganku karena hidup kami jadi seimbang. Coba kalo aku dapat suami yang pikirannya sama kayak aku, beuhh kapan seneng-senengnya. Nabunggggg melulu hidup penuh keprihatinan hehe. Tapi kalo aku dan suamiku juga berpikirnya seneng-seneng melulu, waduhh bagaimana hidup kami kelak. Terus terang awalnya kami memang sering berbeda pendapat, namun dengan seiringnya waktu akhirnya kami malah saling mendukung dan saling pengertian, makanya sekarang kita bagi jatah aja kalo urusan nabung menabung gajiku yang dipakai sedangkan untuk biaya hidup dan seneng-seneng gaji suamiku yg dipakai..🙂

Udah segitu aja corat-coret ringkasku ini (bhahaha ringkas sampe berlembar-lembar), mudah-mudahan menginspirasi. Sing penting Ugha tergerak untuk mulai berinvestasi, jangan sampe percuma aku nulis berlembar-lembar.  Ingat Gha cewek sekarang sangat cinta pada cowok yang banyak simpanannya, simpanan tabungan maksudnya hehe…

gambar dari sini

3 thoughts on “Investasi Sebuah Perjalanan Hidup

  1. Sharing yang menarik sekali, mbak Devi.

    Saya sepakat pada hampir keseluruhan ulasannya, yang pada intinya: penuhi kewajiban dulu, kemudian disusul investasi, dan diiringi dengan zakat, sedekah dan infaq. Insya Allah menjadi berkah. Kalo sudah mendapat berkah-Nya, rezeki akan datang dari pintu yang gak disangka-sangka.

  2. Bagus bgt ini mba curhatanny😀 sgt mbantu. Saya kbetulan baru nyoba investasi emas dengan cara cicil emas di pegadaian syariah. Udah lama mau nyoba installment plan tp malah blm jadi2 soalny pngenny yg di bank syariah tp kykny blm ada.
    Baca pngalaman mba ini kyk ngbaca rencana saya sndiri🙂

    • Alhamdulillah jika dapat membantu, teman saya Ugha juga akhirnya nyicil emas di pegadaian (terprovokator😀 )
      kalo saya akhirnya sistem nyicilnya melalui koperasi kantor, jadi saya pinjam uang di Koperasi dan uangnya saya pakai utk beli LM. Lebih murah dan gak ribert harus transfer sana sini.
      Untuk installment plan setahu saya di BSM udah ada kok Mbak, dulu saya pernah buka utk tabungan dana haji dan ketentuannya hampir sama dengan yang di bank Mandiri bahkan lebih oke karena tidak ada finalty saat tutup tengah jalan *saya bukan marketing dan pegawai BSM loh yaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s