Berbuat SALAH yang OK-able

Sebagai manusia biasa tentunya saya pernah berbuat salah atau khilaf, berbuat kurang tepat selaku sahabat dalam alam pertemanan saya, berlaku salah selaku atasan atau bawahan dalam perkerjaan saya, berlaku khilaf selaku istri dalam keluarga saya atau pun berlaku durhaka selaku anak bagi orang tua saya.

Kesalahan yang saya perbuat adakalanya membuat saya sangat malu, menyesal dan seandainya saya mampu waktu akan saya putar kembali supaya saya tidak perlu melakukan kesalahan tersebut. Sudah segede ini kok masih salah sih, itu yang sering saya ulang-ulang dalam hati.

Teringat salah satu ayat Al Qur’an (Al Maidah 13) bahwa manusia atau Insan berasal dari kata al man sia yang berarti Sang PelupaManusialah tempat salah dan khilaf sehingga Tuhan yang Maha Pengampun berulang kali mengingatkan kita. Karena itulah tidak ada satu pun manusia yang sempurna atau tidak pernah berbuat salah. Berusaha sekeras apapun menjadi manusia yang sempurna malah ketidaksempurnaan yang akan hadir karena keinginan untuk sempurna merupakan ketidaksempurnaan itu sendiri.

Salah satu falsafah timur yang cocok melukiskan paradoks ini menyatakan bahwa: Di atas bidang hitam, menyembul noktah putih yang kecil, sama halnya pun  di atas bidang putih muncul titik hitam nan mungil. Bukankah itu mengindikasikan bahwa di balik kesempurnaan seseorang, pasti ada keterbatasan dan kekurangannya. Sebaliknya pula, di tengah-tengah kelemahannya, tetap ada kelebihan dan kekuatannya sebagai manusia.

Sesungguhnya berbuat salah merupakan feedback yang baik dalam hidup ini, karena dengan kesalahanlah kita dapat intropeksi diri, berbenah dan membuat planning supaya kedepannya tidak terjadi kesalahan yang sama. Meminjam istilah Mario Teguh, berbuat salahlah yang Ok-able.

Lalu pertanyaan saya, jika berbuat salah merupakan fitrah manusia dan bermanfaat, mengapa kita takut berbuat salah. Ternyata salah satu penyebab rasa takut berbuat salah menurut Eileen Rachman muncul karena tidak siapnya kita atas konsekwensi yang menyertainya. Tidak bisa dipungkiri ada orang-orang atau lingkungan yang tidak bertoleransi terhadap kesalahan. Bahkan keluhan salah satu sahabat saya yang pernah berbuat salah di tempat kerja bahwa dia selalu diungkit-ungkit, di diamkan, dicurigai maupun dikucilkan oleh atasannya walau pun dia sudah berupaya keras meningkatkan kualitas pekerjaannya.

Bagaimanakah membuat kesalahan tetap positif atau OK – able menurut Mario Teguh pertama terimalah kesalahan tersebut sebagai bagian dari diri kita yang penuh keterbatasan. Kedua, pelajari dan buatlah antisipasi supaya tidak melakukan kesalahan yang sama dan yang ketiga, berdo’alah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih supaya kita selalu diberi kekuatan dalam memperbaikinya.

Sebagai penutup, mengutip apa yang disampaikan Eileen Rachmad bahwa Kesalahan pertama itu salah saya sebagai atasan, karena tidak mengajari kamu dengan baik. Kesalahan yang sama kedua kalinya itu salah kita berdua, karena proses belajar tidak berjalan mulus. Salah ketiga kali, itu salah kamu karena tidak belajar belajar. Salah keempat kali, silakan menyingkir saja, show must go on😀

Tulisan ini disusun 22 November 2007, merupakan gabungan dari beberapa tulisan diantaranya tulisan Mario Teguh dan Eileen Rachmad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s